Jumat, 01 Maret 2013

Sunan Tembayat

Terdapat paling tidak empat versi mengenai asal-usulnya, namun semua sepakat bahwa ia adalah putra dari Ki Ageng Pandan Arang, bupati pertama Semarang. Sepeninggal Ki Ageng Pandan Arang, putranya, Pangeran Mangkubumi atau disebut juga Pandanaran II, menggantikannya sebagai bupati Semarang kedua. Beliau menjalankan pemerintahan dengan baik dan selalu patuh dengan ajaran – ajaran Islam seperti halnya mendiang ayahnya. Namun lama-kelamaan terjadilah perubahan. Ia yang dulunya sangat baik itu menjadi semakin pudar, Tugas-tugas pemerintahan sering pula dilalaikan.

[Data Sejarah Dari catatan Al-Habib Bahruddin Azmatkhan Ba'alawi
Oleh : Habibullah Ba-Alawi Al-Husaini
Dalam Forum diskusi Group Majelis Dakwah Wali Songo

Nama asli Sunan Bayat : Sayyid Maulana Muhammad Hidayatullah

Nama Lain / Gelar-gelar Sunan Bayat adalah:
1. Pangeran Mangkubumi
2. Susuhunan Tembayat
3. Sunan Pandanaran (II)
4. Wahyu Widayat

Beliau Hidup pada masa Kesultanan Demak dan Giri Kedathon (Pad abad ke-16 M, di era Kesultanan Demak tersebut, Jabatan penasehat Sultan dipegang oleh Sunan Giri, Dan Sunan Giri mendirikan Kerajaan di daerah Giri Gresik dengan nama Giri Kedathon dan merupakan Kerajaan bagian dari kesultanan Demak)

Alkisah:
Pada suatu hari yang cerah Bupati ini sedang duduk asyik dengan istri-istrinya, melihat keretanya yg bagus dan kudanya yg besar2, karena keasyikan hari tak terasa sudah siang; seperti biasa tukang rumput datang untuk menjual rumputnya, lalu menawarkan rumput itu pada Bupati. Kata Tukang Rumput : "Kanjeng ini saya bawakan rumput bagus, maukah Kanjeng membelinya?"
"Ya.... Saya mau asal rumput kamu bagus," Sahut bupati. Setelah dilihat rumputnya dan tawar menawar, harganya sudah disepakati 2 keping, lalu rumput dibawa masuk, sampai kandang kuda rumput dilihat dan alangkah terkejutnya ia karena di dalam Keranjang rumput itu ada bongkahan emas yg cukup besar.

Setelah kedatangan Tukang rumput ini, Bupati selalu teringat pada emas yg ada didalam rumput itu. Pada keesokan harinya Tukang rumput ini datang lagi membawa rumput dan memberikan pada Bupati, Setelah dilihat bagus, Bupati ini bertanya; _"Rumput dari mana ini pak ?"
"Dari Jabalkat... !" sahut Tukang rumput.
Kemudian rumput dibawa masuk, sampai didalam rumput dilihat dan alangkah terkejutnya lagi Bupati ini, dalam rumput ada bongkahan emas yg lebih besar dari yg kemarin. Singkat cerita, setelah kejadian itu beberapa hari Tukang rumput itu tidak pernah datang lagi. Pada suatu hari Bupati punya hajatan; pada hajatan ini yg di undang hanya orang2 kaya saja.
Hajatan ini sangat meriah sekali, waktu penyambutan dimulai, Bupati terkejut melihat Tukang rumput ini ada di tengah2 para tamu, ia memakai pakaian serba hitam dan kelihatan jelek, masuknya tukang rumput itu tidak ada yg tahu.

Bupati marah dan berkata; _"Hai pak rumput tidak saya undang kok ada disini, masuk dari mana kamu",
"Dari depan Kanjeng", Sahut tukang rumput itu. Bupati terus marah, tukang rumput hanya diam saja dan disuruh keluar dan ditempatkan di emperan kandang kuda. Tukang rumput berkata dalam hati; Sangat membedakan sekali Bupati ini dengan sesama, Orang saya sudah masuk, malah disuruh keluar dan ditempatkan yg tidak senonoh hingga hajatan selesai.
Pada keesokan harinya tukang rumput datang akan mengambil topi yg ditaruh di kandang kuda ; Bupati melihat dan bertanya; _"Mana Pak rumputnya";
"Habis Kanjeng" sahut tukang rumput. Bupati marah2 dan sampai pada pertengkaran mulut antara Bupati dan Tukang rumput." Tukang rumput berkata;
"Tamak sekali orang ini, Pada pertengkaran ini Bupati berucap; _"Kalau aku kalah kaya dengan kamu, aku akan menurut perintahmu dan akan meninggalkan hartaku.
Rupanya kata2 itu yg ditunggu2 Tukang rumput ini, tepat pada waktu itu tukang rumpu berdiri dan di sebelahnya ada cangkul, dan cangkul itu diayunkan 3 x dan kemudian Tanah yg dicangkul itu berubah seketika menjadi emas yg berkilauan dan berkata Tukang rumput; _"Ambilah emas ini kalau kamu mau".
Dengan perasaan takut dan heran Bupati terdiam sejenak, dalam benaknya ia berkata , Orang ini pasti bukan orang sembarangan lalu ia bertanya;.
"Siapakah Bapak ini sebenarnya"?

"Aku Sunan Kalijaga" sahutnya.

Segera Sang Bupati memohon maaf atas kelancangannya dan bersimpuh di bawah kaki Sunan Kalijaga seraya ia berkata; "Kanjeng Sunan bolehkah aku mengabdi kepadamu?". Sunan Kalijaga : "Silahkan, namun ada syaratnya untuk menjadi muridku".
1. Segeralah bertaubat dan jangan lagi menghambakan diri dengan harta duniawi, serta sebarkanlah Agama Islam keseluruh kota Semarang
2. Kau harus mendirikan Mesjid yg selalu diiringi bedhug yg berbunyi setiap waktu Sholat tiba
3. Kau harus membagikan hartamu pada fakir miskin
4. Menghidupkan lampu di rumah guru (Sunan Kalijaga)
Setelah kesemuanya kau lakukan segeralah mencariku di Jabakat di daerah Tembayat adapun nama saya disana adalah Syeh Malaya".
Setelah berkata begitu Sunan Kalijaga menghilang entah kemana. Padang Aran pun menyesal karena orang yg dihinanya ternyata adalah seorang Sunan.
Kemudian Sang bupati menceritakan apa yg di alaminya kepada istrinya dan mengutarakan maksud untuk mengikuti Sunan Kalijaga di Jabalkat.
Kalau Nyai mau ikut tak Usah membawa apa2 karena harta sudah tidak ada artinya bagiku ; Pesan Sang bupati pada Istrinya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar